akad istish’na

BAB I
PENDAHULUAN
1.2    LATAR BELAKANG
Akad istishna adalah akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barangtertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu. Istishna dapat dilakukan langsung antaradua belah pihak antara pemesan atau penjual seperti, atau melalui perantara. Jika dilakukanmelalui pearantara maka akad disebut dengan akad istishna  arallel. Walaupun istishna adalah akad jual beli, tetapi memiliki perbedaan dengan salammaupun dengan murabaha. Istishna lebih ke kontrak pengadaan barang yang ditangguhkan dandapat di bayarkan secarra tangguh pula. Istishna menurut para fuqaha adalah pengembangan dari salam, dan di izinkan secarasyari’ah. Untuk pengakuan pendapatan istishna dapat dilakukan melalui akad langsung danmetode persentase penyelesaian. Di mana metode persentase penyelesaian yang digunakanmiris dengan akuntansi konvensional, kecuali perbedaan laba yang di pisah antara margin labadan selisih nilai akad dengan nilai wajar.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian akad istishna’
Akad istishna adalah akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barangtertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang di sepakati antara pemesan(pembeli/mustashni) dan penjual (pembuat/shani) (fatwa DSN MUI ) shani’ akan menyiapkanbarang yang di pesan sesuai dengan spesifikasi yang telah di sepakati di mana ia dapatmenyiapkan sendiri atau melalui pehak lain (istishna pararlel).
Dalam PSAK 104 par 8 di jelaskan barang pesanan harus memenuhi criteria ;
1. Memerlukan proses pembuatan setelah akad di sepakati
2. Sesuai dengan spesifikasi pemesan (customized), bukan produk masal dan
3. Harus di ketahui karakteristiknya secara umum yang meliputi jenis,spesifikasi teknis,kualitas, dan kuantitasnya.

Dalam istishna paralel ,penjual membuat akad istishna kedua dengan sub kontraktor untukmembantunya memenuhi kewajiban akad istishna pertama( antara penjual dan pemesan) pihakyang bertanggung jawab pada pemesan tetap terletak pada penjual tidak dapat di alihkan padasub kontraktor karna akad terjadi anatara penjual dan pemesan bukan pemesan dengansubkontrktor. Sehingga penjual tetap bertanggung jawab atas hasil kerja subkontraktor . Pembeli mempunyai hak untuk memperoleh jaminan dari penjual atas
(a) jumalah yangtelah di bayarkan ,dan
(b) penyerahan barang pesanan sesuai dengan spesifikasi dan tepatwaktu (PSAK 104 par 13)

Dalam akad ,spesifikasi akad yang di pesan harus jelas, bila produk yang di pesan adalah rumah, maka luas bangunan, model rumah dan spesifikasi harus jelas, misalnya menggunakanbata merah, kayu jati, lantai keramik merk roman ukuran 40×40, toiletteries merk toto dan lain sebagainya. Dengan spesifikasi yang rinci, diharapkan persengkataan dapat di hindari.

Hargapun harus disepakati berikut cara pembayarannya, apakah pembayaran 100%dibayarkan dimuka, melalui cicilan, atau ditangguhkan sampai waktu tertentu. Begitu harga disepakati, maka selama masa akad harga tidak dapat berubah walaupun biaya produksi meningkat, sehingga penjualan harus memperhtungkan hal ini. Perubahan harga hanyadimungkinkan apabila spesifikasi atas barang yang dipesan berubah.
Begitu akad disepakati, maka akan mengikat para pihak yang bersepakat dan padadasarnya tidak dapat dibatalkan, kecuali:
1. Kedua belah pihak setuju untuk menghentikannya
2. Akad batal demi hukum karena timbul kondisi hokum yang dapat menghnalangi pelaksanaan atau penyelesaian akad (psak 104 par 12).

Perbedaan Salam dengan istishna
subyek    salam    Istishna’’    Aturan dan keterangan
Pokok kontrak    Muslam fihi    Mashnu’    Barang ditangguhkan, dengan spesifikasi
Harga    Dibayar saat kontrak    Boleh saat kontrak, boleh diangsur, boleh kemudian hari    Cara penyelesaian pembayaran merupakan perbedaan utama antara salam dan istishna’
Sifat kontrak    Mengikat secara asli
(thabi’i)    Mengikat secara ikutan (thaba’i)    Salam mengikat semua pihak sejak semula, sementara istishna’ dianggap mengikat berdasarkan pandangan para fuqaha demi kemashlahatan, serta tidak bertentangan dengan aturan syariah
Kontrak paralel    Salam paralel    Istishna’ paralel    Baik salam paralel maupun istishna’ paralel sah asalkan: kedua kontrak secara hukum adalah terpisah.

2.2 Jenis akad istishna

1.    Istishna adalah akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan criteria dan persyaratan tertgentu yang disepakati antara pemesan (pembeli atau mustahin) dan penjujal (pembuat, shani).
SKEMA ISTISHNA

(1)
(2)
(3)

KETERANGAN:
(1)    Melakukan akad istishna’
(2)    Barang diserahkan kepada pembeli
(3)    Pembayaran dilakukan oleh pembeli

2. Istishna paralel adalah suatu bentuk akad istishna antara penjual dan pemesan, dimana untuk memenhui kewajibannya kepada pemesan, penjual melakukan akad itishna dengan pihak lain(subkontraktor) yang dapat memenuhi asset yang dipoesan pemesan. Syaratnya akad istishna pertama antara penjual dan pemesan tidak bergantung pada istishna, kedua antara penual dan pemasok . selain itu, akad antara pemesan dengan penjual dan akad antara penjual dan pemesan harus terpisah dan penjual tidak boleh mengakui adanya keuntungan selama kontruksi.

SKEMA ISTISHNA’ PARALEL

(1)
(4)
(5)

(2)              (3)

KETERANGAN:
(1)    Melakukan akad istishna’
(2)    Penjual memesan dan membeli pada supplier/produsen
(3)    Baranng diserahkan dari produsen
(4)    Barang diserahkan pembeli
(5)    Pembayarann dilakukan oleh pembeli

2.3 Dasar syari’ah

Sumber Hukum Akad Istishna’
Amr bin ‘auf berkata:

“perdamaian dapat dilakukan diantara kamu muslimin kecuali perdamaian yang megharamkanyang halal dan menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin tergikat dengan syarat syaratmereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal dan mengharamkan yang halal.” (HR.Tirmidzi)

Abu sa’id al khudri berkata: tidak boleh membahayakan diri maupun orang lain.” HR. Ibnu majadarruqutni dan yang lain. Masyarakat telah memperaktikan istishan secara luas dan terus menerus tganpa adakeberatan sama sekali. Hal demikian menjadi istishna sebagai kasus ijma atau consensus umum.Istiishna sah sesuai dengan aturan umum mengenai kebolehan kontrak selama ttidakbertentangan dengan nash atau aturan syari’ah. Segala sesuatu yang memiliki kemaslahatanbagi umum serta tidak dilarang syari’ah, boleh dilakukan. Tidak ada persoalan apakah haltersebut telah dipraktikan secara umum atau tidak.

Rukun Dan Ketentuan Akad Istishna’

-Adapun rukun istishna ada tiga, yaitu :
1. Pelaku terdiri atas pemesan (pembeli atau mustasni) dan penjual (pembuat sani’)
2. Objek akad berupa barang yang akan diserahkan dan modal istishna yang berbentuk harga
3. Ijab qabul/serah terima.
-Ketentuuan syari’ah
1. Pelaku, harus cakap hukum dan balig
2. Objek akad:
a. Ketentuan tentang pembayaran
1). Alat bayar harus diketahui jumlah dan bentuknya, baik berupa uang, barang, atau manfaat, demikian juga degan cara pembayarannya.
2). Harga yang telah ditetapkan dalam akad tidak boleh berubah. Akan tetapi apabila setelah akad ditandatangani pembeli mengubah spesifikasi dalam akad maka penambahan biaya akibat peruhbahan ini menadi tanggung jaawab pembeli
3). Pembayaran dilakukan sesuai kesepakatan
4). Pembayaran tidak boleh berupa pe,mbebasan utang.

b. Ketetuan tentang barang
1) Barang pesanan harus jelas spesifikasinya (jenis, ukuran, mutu) sehingga tidak ada lagi jahala dan perselisihan dapat dihindari
2) Barang pesanan diserahkan kemudian
3) Waktu dn penyerahan barang harus ditetapkan nberdasarkan kesepakatan
4) Barang pesanan yang belum diterima tidak boleh dijual
5) Tidak boleh menukar barang kecuali dengan barang sejenis sesuai kesepakatan
6) Dalam hal terdapat cacat atau barang tidak sesuai dengan kesepatan, pemesan pemilik hak khiyar (hak memilik) untuk melanjutkan atau membatalkan akad
7) Dalam hal pemesanan sudah dikerjakan sesuai dengan kesepakatan, hukumnya mengikat, tidak boleh dibatalkan sehingga penjual tidak dirugikan karena ia telah menjalankan kewajibannya sesssuai dengan kesepakatan

3. Ijab qabul
Adalah pernyataan ekpsresi saling ridha/ rela diantara pihak pihak pelaku akad yang dilakukan secara verbal, terttulis, melaui korespondensi atau menggunakan cara cara komunikasi modern

Berakhirnya akad istishna Kontrak istishna bias berakhir berdasarkan kondisi kondisi berikut:
1. Dipenuhinya kewajiban secara normal oleh kedua belah piahk,
2. Persetujuan bersama kedua belah pihak untuk menghentikan kotrak
3. Pembatalan hukum kontrak ini jika muncul sebab yang masuk akal untuk mencegah dilaksanakannya kontrak atau penyelesaiannya, dan masing masing pihak bisa menuntut pembatalannya.

2.4 PERLAKUAN AKUNTANSI (PSAK 106)
Akuntansi Untuk Penjual
1.  Biaya perolehan istishna’ terdiri dari:

a. Biaya langsung yaitu: bahan baku dan tenaga kerja langsung untuk membuat barang pesanan, atau tagihan produsen/kontraktor pada entitas untuk istishna’ paralel.
b. Biaya tidak langsung adalah biaya overhead termasuk biaya akad dan  praakad.
c. Khusus untuk istishna’ paralel: seluruh biaya akibat produsen/ kontraktor tidak dapat memenuhi kewajiban jika ada.

Biaya perolehan/pengeluaran selama pembangunan atau tagihan yang diterima dari produsen/kontraktor diakui sebagai aset istishna’ dalam penyelesaian, jurnal melakukan pengeluaran untuk akad istishna’
Dr.   Aset istishna’ dalam penyelesaian        xxx
Cr.  Persediaan, kas, utang, dll                         xxx
Untuk akun yang dikredit akan tergantung apa yang digunakan oleh perusahaan untuk memenuhi kewajiban akad tersebut.

Beban pra akad diakui sebagai beban tangguhan dan diperhitungkan sebagai biaya istishna’ jika akad disepakati. Jika akad tidak disepakati maka biaya tersebut dibebankan pada periode berjalan.
Saat dikeluarkan biaya pra akad, dicatat:
Dr. Biaya Pra Akad Ditangguhkan                        xxx
Cr. Kas                                                xxx
Jika Akad disepakati, maka dicatat:
Dr. Beban Istishna’                                         xxx
Cr. Biaya Pra Akad  Ditangguhkan                             xxx
Jika Akad tidak disepakati, maka dicatat:
Dr. Beban                                               xxx
Cr. Biaya Pra Akad Ditangguhkan                                           xxx

2.    Jika pembeli melakukan pembayaran sebelum tanggal jatuh tempo dan penjual memberikan potongan, maka potongan tersebut sebagai pengurang pendapatan istishna’.
3.    Pengakuan Pendapatan dapat diakui dengan 2 metode:
a.    Metode persentase penyelesaian, adalah sistem pengakuan pendapatan yang dilakukan seiring dengan proses penyelesaian berdasarkan akad istishna’.
b.    Metode akad selesai adalah sistem pengakuan pendapatan yang dilakukan ketika proses penyelesaian pekerjaan telah dilakukan

4.    Untuk metode persentase penyelesaian, pengakuan pendapatan dilakukan sejumlah bagian nilai akad yang sebanding dengan pekerjaan yang telah diselesaikan tersebut diakui sebagai pendapatan istishna’ pada periode yang bersangkutan.
a.    Pendapatan diakui: berdasarkan persentase akad yang telah diselesaikan biasanya menggunakan dasar persentase pengeluaran biaya yang dilakukan dibandingkan dengan total biaya, kemudian persentase tersebut dikalikan dengan nilai akad.
b.    Margin Keuntungan juga diakui berdasarkan cara yang sama dengan pendapatan.
Persentase penyelesaian =  Biaya yang telah dikeluarkan
Total biaya untuk penyelesaian
Pengakuan Pendapatan   =  Persentase penyelesaian x Nilai Akad
Pengakuan Margin          =  Persentase penyelesaian x Nilai Margin
Dimana nilai margin tersebut adalah: Nilai Akad – Total Biaya

Untuk pengakuan pendapatan di tahun-tahun berikutnya (jika >1 tahun)

Pendapatan Tahun Berjalan  = Pendapatan diakui s/d saat ini – pendapatan yang telah diakui

5.     Bagian margin keuntungan istishna’ yang diakui selama periode pelaporan ditambahkan kepada aset istishna’ dalam penyelesaian.  Jurnal untuk pengakuan pendapatan dan margin keuntungan adalah:
Dr  aset istishna’ dlm penyelesaian (margin keuntungan) xxx
Dr. Beban istishna’( biaya yang telah dikeluarkan)           xxx
Cr. Pendapatan Istishna’                                             xxx
(pendapatan yg hrs diakui diperiode berjalan )
6.    Untuk metode persentase penyelesaian, pada akhir periode harga pokok istishna’ diakui sebesar biaya istishna’ yang telah dikeluarkan sampai periode tersebut.
7.    Untuk metode akad selesai tidak ada pengakuan pendapatan, harga pokok dan keuntungan sampai dengan pekerjaan telah dilakukan. Sehingga pendapatan diakui pada periode dimana pekerjaan telah selesai dilakukan.
8.    Jika besar kemungkinan terjadi bahwa total biaya perolehan istishna’ akan melebihi pendapatan istishna’ maka taksiran kerugian harus segera diakui.
9.    Pada saat penagihan (metode persentase penyelesaian& akad selesai):
Dr.  Piutang Istishna’(sebesar nilai tunai)      xxxban ebn
Cr. Termin Istishna’                     xxx
Termin istishna’ tersebut akan disajikan sebagai akun pengurang dari akun Aset Istishna’ dalam penyelesaian.
10.    Pada saat penerimaan tagihan, jurnal::
Dr.   Kas   (sebesar uang yang diterima )  xxx
Cr.  Piutang Usaha                     xxx

Berdasarkan hal tersebut, maka perbedaan jurnal isitishna’ tangguhan dengan istishna yang dibayar tunai terletak pada 2 jurnal yang terdiri atas jurnal untuk pengakuan pendapatan dan jurnal untuk pengakuan margin keuntungan:
1.    Jurnal pengakuan margin keuntungan pembuatan barang  adalah:
Dr . asset istishna’ dalam penyelesaian (sebesar margin keuntungan)      xxx
Dr . beban istishna’ (sebesar pendapatan yang dikeluarkan)                    xxx
Cr. Pendapatan istishna’ ( sebesar pendapatan yang harus                                  xxx
diakui di periode berjalan)

2.    Jurnal pengakuan pendapatan selisih antara nilai akad dan nilai tunai
Pada saat penandatanganan akad:
Dr. piutang istishna’ (sebesar selisih nilai tunai dan nilai akad)             xxx
Cr. Pendapatan isitishna’ tangguh                                                                         xxx

Pada saat pembayaran dan pengakuan pendapatan selisih nilai tunai dan nilai akad:
Dr. pendapatan istishna’ tangguh (secara proporsional periode)          xxx
Cr. Pendapatan akad istishna’                                                                                xxx
Dr. piutang istishna’ (sebesar kas yang diterima)                                 xxx
Cr. kas                                                                                                                     xxx

Untuk membedakan apakah suatu akad istishna yang pembangunan asset istishnanya dilakukan lebih dari satu tahun itu dikelompokkan sebagai akad tunai dan atau akad tangguh, maka yang harus menjadi dasar adalah sesuai waktu serah terimanya.

Akuntansi Untuk  Pembeli

1.    Pembeli mengakui aset istishna’ dalam penyelesaian sebesar jumlah termin yang ditagih oleh penjual dan sekaligus mengakui utang istishna’ kepada penjual.
Dr.  Aset istishna’ dalam penyelesaian      xxx
Cr.  Utang kepada Penjual                                        xxx
2.    Aset istishna’ yang diperoleh melalui transaksi istishna’ dengan pembayaran tangguh lebih dari satu tahun diakui sebesar: biaya perolehan tunai. Selisih antara harga beli yang disepakati dalam akad istishna’ tangguh dan biaya perolehan tunai diakui sebagai beban istishna’ tangguh.
Dr. Aset istishna’ dlm penyelesaian (nilai tunai)     xxx
Dr. Beban istishna’ tangguh
(selisih nilai tunai &harga beli)                             xxx
Cr.  Utang kepada Penjual                               xxx

3.    Beban istishna tangguhan diamortisasi secara proporsional sesuai dengan porsi pelunasan utang istishna’
Dr.     Beban istishna’                        xxx
Cr.  Beban istishna’ tangguh                                       xxx
Pembayaran utang, jurnal:
Dr. utang kepada penjual                                       xxx
Cr. Kas                                                                                   xxx
4.     Jika barang pesanan terlambat diserahkan karena kelalaian atau kesalahan penjual, mengakibatkan kerugian pembeli, maka kerugian tersebut dikurangkan dari garansi penyelesaian proyek yang telah diserahkan penjual.
Jika kerugian itu lebih besar dari garansi, maka selisihnya diakui sebagai piutang             jatuh tempo kepada penjual dan jika diperlukan dibentuk penyisihan kerugian piutang.
Dr.  Piutang jatuh tempo kepada penjual    xxx
Cr.   Kerugian aset istishna’               xxx
Setelah sebelumnya pembeli mengakui adanya kerugian

5.    Jika pembeli menolak menerima barang pesanan karena tidak sesuai dengan spesifikasi dan tidak memperoleh kembali seluruh jumlah uang yang telah dibayarkan kepada penjual, maka jumlah yang belum diperoleh kembali diakui sebagai piutang jatuh tempo kepada penjual dan jika diperlukan dibentuk penyisihan kerugian piutang.
Dr.  Piutang jatuh tempo kepada penjual     xxx
Cr.  Aset istishna’ dalam penyelesaian     xxx

6.    Jika pembeli menerima barang pesanan yang tidak sesuai dengan spesifikasi, maka barang pesanan tersebut diukur dengan nilai yang lebih rendah antara nilai wajar dan biaya perolehan. Selisih yang terjadi diakui sebagai kerugian pada periode berjalan.
Dr. Aset istishna’ dlm penyelesaian (nilai wajar)      xxx
Dr.  Kerugian                                   xxx
Cr.Aset istishna’dlm penyelesaian (biaya perolehan)          xxx

7.    Penyajian, pembeli menyajikan dalam laporan keuangan hal-hal sebagai berikut:
a. Hutang ishtisna’ sebesar tagihan dari produsen atau kontraktor yang belum dilunasi.
b. Aset istishna’ dalam penyelesaian sebesar:
(i) persentase penyelesaian dari nilai kontrak penjualan kepada pembeli akhir, jika istishna’ paralel; atau
(ii) kapitalisasi biaya perolehan, jika istishna’.

8. Pengungkapan, pembeli mengungkapkan transaksi istishna’ dalam laporan keuangan, tetapi tidak terbatas, pada:
a. rincian utang istishna’ berdasarkan jumlah dan jangka waktu;
b. pengungkapan yang diperlukan sesuai PSAK No. 101 tentang Penyajian Laporan  Keuangan Syari’ah.
2.5 ILUSTRASI AKUNTANSI AKAD ISTISHNA
Kasus metode presentase penyelesaian dan pembayaran secara tunai
Transaksi (dalam ribuan rupiah)    Penjual    pembeli
Sebelum melakukan akad,dkeluarkan biaya sebesar Rp.250 untuk  melakukan survei    Beban pra akad ditangguhkan 250
Kas                                                  250
Jika ternyata kemudian hari dilakukan akad    Beban isitishna’                      250
Beban pra akad ditangguhkan         250
Dilakukan akad dengan informasi sebagai berikut:
–    Biaya perolehan (produksi)Rp. 1000
–    Margin keuntungan Rp.200
–    Nilai tunai saat penyerahan Rp. 1200

Mengeluarkan biaya perolehan istishna’

Pada akhir periode tahun buku, pengakuan pendapatan (tergantung presentase penyelesaian yang telah diakui)

Kalau pada metode akad selesai dilakukan pada akhir masa akad

Pada saat penagihan dan penyerahan asset istishna’ kepada pembeli

Termin istishna sebagai contra account dari asset isitishna’ dalam penyelesaian

Pada saat kas diterima

Aset                                1.200
Utang istishna’                 1.200

Utang istishna’                 1.200
Kas                                   1.200

Untuk kasus istishhna’ dengan metode akad selesai, jurnal yang digunakan sama dengan metode presentase penyelesaian, yang membedakan adalah waktu pengakuan pendapatn yang dilakukan pada akhir akad.

Kasus metode persentase penyelesaian dan pembayaran secarah tangguh
Transaksi (dalam ribuan rupiah)    penjual    pembeli
Dilakukan akad dengan informasi sebagai berikut:
–    Biaya perolehan(produksi) Rp.1000
–    Margin keuntungan Rp.200
–    Nilai tunai saat penyerahan Rp. 1.200
–    Nilai akad karena tangguh Rp.300
–    Selisih nilai akad dan tunai Rp.300

Mengeluarkan biaya perolehan istishna’.     Aset istishna’ dalam
penyelesaian                        1.000
kas/utang/persediaan              1.000
pada akhir periode tahun buku, pengakuan pendapatan(tergantung persentase penyelesaian yang telah diakui).     aset istishna’ dalam
penyelesaian              200
beban istishna’           1.000
pendapatan istishna’      1.200
Pada saat penagihan dan penyerahan aset istishna’ kepada pembeli

Termin istishna’ sebagai contra account dari aset istishna’ dalam penyelesaian

Pada saat kas diterima. Diangsur  selama 3 tahun, jadi setiap tahun membayar Rp. 500

Jika pembeli melakukan kewajiban pembayaran isitishna’ lebih awal dan penjual memberikan potongan sebesar Rp 75. Maka potongan dapat diperlukan sebagai:
–    Potongan langsung dan dikurangkan dan piutang istishna pada saat pembayaran.

–    Pada saat pembayaran jika penjual tidak memberikan potongan kepada pembeli

–    Penggantian/reimbursement kepada pembeli sejumlah keuntungan yang dihapuskan setelah menerima pembayaran piutang istishna
piutang istishna            1.200
termin istishna’                   1.200
piutang istishna’          300
pendapatan isitishna
tangguh                              300
termin istishna’            1.200
aset isitishna’dalam
penyelesaian                       1.200

kas                                500
piutang istishna’               500
pendapatan istishna’
tangguh                        100
pendapatan istishna’           100

Kas                                    425
Pendapatan istishna’
Tangguh                             100
Piutang isitishna’                   500
Pendapatn  istishna’                25
Kas                                       500
Piutang istishna’                      500

Pendapatan istishna’
Tangguh                                100
Kas                                            75
Pendapatan istishna                  25
Aset                                 1.200
Utang istishna’                     1.200
Beban istishna’ tangguh   300
Utang istishna’                     300

Utang istishna’           500
Kas                                   500
Beban istishna’            100
Beban istishna tangguh     100

Utang istishna’         500
Beban istishna            25
Beban istishna tangguh        100
Kas                                        425

Utang istishna’             500
Kas                                      500

Beban istishna’              25
Kas                                 75
Beban istishna’ tangguh        100

Untuk kasus istishna’ dengan metode akad selesai, jurnall yang digunakan sama dengan metode persentase penyelesaian, yang membedakan adalah waktu pengakuan pendpatan yaitu dilakukan pada akhir masa akad.

Jika terjadi kerugian atas akad istishna’ dan dibayar tunai
Transaksi (dalam ribuan)    penjual    pembeli
Dilakukan akad dengan informasi sebagai  berikut:
–    Biaya perolehan (produksi) Rp. 1.000
–    Margin keuntungan Rp.200
–    Nilai tunai saat penyerahan Rp1.200

Mengeluarkan biaya peolehan istishna’.    Aset istishna’ dalam
Penyelesaian          1.000
Kas/utang/persediaan     1.000
Ternyata biaya perolehan yang diperkirakan Rp.1.000, realisasinya adalah Rp. 1.250    Aset istishna’ dalam
Penyelesaian              250
Kas/utang/persediaan      250
Saat akhir periode,pengakuan kerugian dari istishna’    Beban isitshna’               1.250
Aset istishna’ dalam
Penyelesaian (kerugian)    50
Pendapatan istishna’     1.200

Pada saat penagihan dan penyerahan aset istishna’ kepada pembeli.
Termin istishna’ sebagai contra account dari aset istishna dalam penyelesaian.    Piutang istishna’           1.200
Termin istishna’             1.200
Termin istishna             1.200
Aset istishna’ dalam
Penyelesaian                  1.200     Aset                        1.200
Utang istishna’           1.200
Pada saat kas diterima    Kas                                1.200
Piutang usaha                  1.200      Utang istishna’      1.200
Kas                          1.200

BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Istishna’menurut para fuqaha adalah pengembangan dari salam, dan diizinkan secara syariah untuk pengakuan pendapatan istishna’ dapat dilakukan melalui akad langsung dan metode persentase penyelesaian. Di mana metode peresentase penyelesaian yang digunakan mirip dengan akuntansi konvesional , kecuali perbedaan laba yang dipisah anatara margin laba dan seleih nilai akad dengan nilai wajar.

3.2 SARAN
Setelah membaca makalah ini, tentunya para pembaca telah mengetahui sedikit tentang apa itu akad istishna’ dalam proses jual beli. Olehnya  itu untuk mengetahui lebih banyak lagi apa yang dimaksud akad istishna sebaiknya kita menambah pengetahuan dalam melaui jaringan internet atau buku-buku yang berhubungan  dengan akad istishna’.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s