KERANGKA DASAR PENYUSUNAN DAN PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN SYARIAH (PSAK)

PENDAHULUAN
Proses akuntansi, yang dimulai dari identifikasi kejadian dan transaksi hingga penyajian dalam laporan keuangan, ,membutuhkan sebuah kerangka dasar penyusunandan penyajian laporan keuangan. Kerangka dasar atau kerangka konseptual akuntansi adalah suatu system yang melekat dengan tujuan – tujuan serta sifat dasar yang mengarah pada standar yang konsisten dan terdiri atas sifat, fungsi dan batasan dari akuntansi keuangan dan laporan keuangan.
Kerangka konseptual diperlukan agar dihasilkan standard an aturan yang koheren yang disusun atas dasar yang sama sehingga menambah pengertian dan kepercayaan para pengguna laporan keuangan, serta dapat dibandingkan di antara perusahaan yang berbeda atau periode yang berbeda.
Telah banyak peneliti di bidang akuntansi, baik muslim maupun non muslim yang menelaah teori maupun penelitian tentang tujuan maupun kerangka dasar atas laporan keuangan syariah. Misalnya, AAOIFI ( Accounting And Auditing Organization For Islamic Financial Institution), sebagai organisasi yang mengembangkanakuntansi dan auditingbagi lembaga keuangan syariah di tingkat dunia, telah mengeluarkan pernyataan akuntansi No. 1 dan No. 2 tentang tujuan akuntansi keuangan untuk bank dan lembaga keuangan syariah. Sementara itu, Dewan Standar Akuntansi Indonesia (DSAK) menyusun psak syariah tentang kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan syariah.
Untuk itu, dalam makalah ini kami membagi menjadi 2 bagian, Bagian pertama menjelaskan tentang kerangka dasar dan laporan keuangan sesuai dengan PSAK kemudian dilanjutkan dengan bagian kedua, tentang kerangka dasar dan laporan keuangan menurut AAOIFI dan para pemikir akuntansi Islam.

PEMBAHASAN
Seperti dijelaskan sebelumnya, dalam makalah ini, kami membagi menjadi dua bagian pembahasan mengenai kerangka dasar dan laporan keuangan. Namun yang akan kami bahas lebih dahulu yaitu,

I.    KERANGKA DASAR PENYUSUNAN DAN PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN SYARIAH (PSAK)
A.    Tujuan Kerangka Dasar
Kerangka dasar ini menyajikan konsep yang mendasari penyusunan dan penyajian laporan keuangan bagi para penggunanya. Kerangka ini berlaku untuk semua jenis transaksi syariah yang dilaporkan oleh entitas syariah maupun entitas konvensional baik sector public maupun sector swasta. Tujuan Kerangka Dasar ini adalah untuk digunakan sebagai acuan bagi :
1.    Penyusun standar akuntansi syariah, dalam pelaksanaan tugasnya.
2.    Penyusun laporan keuangan, untuk menanggulangi masalah akuntansi syariah yang belum diatur dalam standar akuntansi keuangan syariah.
3.    Auditor, dalam mem berikan pendapat mengenai apakah laporan keuangan disusum sesuai dengan prinsip akuntansi syariah yang berlaku umum
4.    Para pemakai laporan keuangan, Dalam menafsirkan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan yang disusun sesuai dengan standar akuntansi keuangan syariah

B.    Pemakai dan Kebutuhan Informasi
Pemakai laporan keuangan meliputi :
1.    Investor sekarang dan investor potensial ; hal ini karena mereka harus memutuskan  apakah akan membeli, menahan atau menjual investasi atau penerimaan dividen.
2.    Pemilik dana qardh ;untuk mengetahui apakah dana qardh dapat di bayar pada saat jatuh tempo
3.    Pemilik dana syirkah temporer ; untulk memberikan keputusan pada investasi yang memberikan tingkat pengembalian yang bersaing dan aman
4.    Pemilik dana titpan ; untuk memastikan bahwa titipan dana dapat diambil tiap saat
5.    Pembayar dan penerima zakat, infaq, sedekah dan wakaf ; untuk informasi tentang sumber dan penyaluran dana tersebut.
6.    Pengawas syariah ; untuk menilai kepatuhan pengelolaan lembaga syariah terhadap prinsip syariah.
7.    Karyawan ; untuk nmemperoleh informasi tentang stabilitas dan profitabilitas entitas syariah.
8.    Pemasok dan mitra usaha lainnya ; untuk memmperoleh informasi tenteng kemampuan entitas membayar utang pada saat jatuh tempo
9.    Pelanggan ; untuk memperoleh informasi tentang kelangsungan hidup entitas syariah
10.    Pemerintah serta lembaga – lembaganya ; untuk memperoleh informasi tentang aktivitas entitas syariah, perpajakan, serta kepentingan nasional lainnya.
11.    Masyarakat ; untuk memperoleh informasi tentang kontribusi entitas terhadap masyarakat dan Negara.

C.    Paradigma Transaksi Syariah
Transaksi syariah didasarkan pada paradigm dasar bahwa alam semesta diciptakan oleh tuhan sebagai amanah dan sarana kebahagiaan hidup bagi seluruh umat manusia untuk mencapai kesejahteraan hakiki secara material dan spiritual. Substansinya adalah bahwa setiap aktivitas manusia memiliki akuntabilitas dan nilai ilahiah yang  menempatkan perangkat syariah dan akhlak sebagai parameter baik dan buruk, benar dan salahnya aktivitas usaha. Dengan cara ini akan terbentuk karakter tata kelolah yang baik (good governance).

D.    Asas Transaksi Syariah
Transaksi syariah berdasarkan pada prinsip :
1.    Persaudaraan (ukhuwah), yang berarti bahwa transaksi syariah menjunjung tinggi nilai kebersamaan dalam memperoleh manfaat, sehingga seseorang tidak boleh mendapat keuntungan di atas kerugian orang lain.
2.    Keadilan (‘adalah), yang berarti selalu menempatkan sesuatu hanya pada yang berhak dan sesuai pada posisinya.
3.    Kemaslahatan (maslahah), yaitu segala bentuk kebaikan dan manfaat yang berdimensi duniawi dan ukhrawi, material dan spiritual, serta individual dan kolektif.
4.    Keseimbangan ( tawazun), yaitu keseimbangan antara aspek material dan spiritual, antara aspek privat dan public, antara sector keuangan dan rill, antara bisnis dan social, serta antara aspek pemanfaatan serta pelestarian.

E.    Karakteristik Transaksi Syariah
Implementasi transaksi yang sesuai dengan paradigm dan asas transaksi syariah harus memenuhi karakteristik dan persyaratan antara lain :
1.    Transaksi hanya dilakukan dengan prinsip saling paham dan saling rida
2.    Prinsip kebebasn bentransaksi diakui sepanjang objeknya halal dan baik
3.    Uang hanya sebagai alat tukar dan satuan pengukur nilai , bukan sebagai komoditas
4.    Tidak mengandung unsure riba, kezaliman, gharar, haram.
5.    tidak menganut prinsip nilai waktu dari uang (time value of money).
6.    Transaksi yang dilakukan berdasarkan suatu perjanjian yang jelas dan benar serta keuntunga n untuk semua pihak
7.    Tidak ada distorsi harga melalui rekayasa permintaan dan rekayasa penawaran
8.    Tidak mengandung unsure kolusi dengan suap – menyuap.

F.    Tujuan Laporan Keuangan
Tujuan utama laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi, menyangkut posisi keuangan suatu entitas syariah yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai  dalam pengambilan keputusan ekonomi, tujan lainnya adalah :
1.    Meningkatkan kepatuhan terhadap prisip syariah
2.    Informasi kepatuhan entitas syariah terhadap prinsip syariah
3.    Informasi untuk membantu mengevaluasi pemenuhan tanggung jawab entitas syariah terhadap amanah dalam mengamankan dana, menginvestasikannya pada tingkat keuntungan yang layak.
4.    Informasi tentang tingkat keuntungan  investasi yang diperoleh penanam modal dan pemilik dana syirkah temporer ; dan informasi mengenai pemenuhan kewajiban (obligation) fungsi social entitas syariah termasuk pengelolaan dan penyaluran zakat, infak, sedekah, dan wakaf.

G.    Bentuk LAporan Keuangan
Laporan keuangan entitas syariah terdiri atas :
1.    Posisi keuangan entitas syariah disajikan sebagai neraca. Laporan ini menyajikan informasi tentang sumberdaya yang dikendalikan, stuktur keuangan, likuiditas dan solvabilita serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Laporan ini berguna untuk memprediksi kemampuan perusahaan dimasa yang akan dating.
2.    Informasi kinerja entitas syariah, disajikan dalam laporan laba rugi. Laporan ini diperlukan untuk menilai perubahan potensial sumber daya ekonomi yang munkin dikendalikan di masa depan
3.    Informasi perubahan posisi keuangan entitas syariah, yang dapat disusun berdasarkan devinisi dana seperti seluruh sumber daya keuangan, modal kerja, asset likuit atau kas
4.    Informasi lain seperti, laporan penjelasan tentang pemenuhan fungsi social entitas syariah.
5.    Catatan dan skedul tambahan, merupakan penampung dari informasi tambahan yang relefan termasuk pengungkapan tentang resiko dan ketidakpastian yang mempengaruhi entitas.

H.    Asumsi Dasar
1.    Dasar akrual
Laporan keuangan disajikan atas dasar actual, maksudnya bahwa pengaruh transaksi dan peristiwa yang alain diakui pada saat kejadian dan diungkapkan dalam cacatan akuntansi serta dilaporkan dalam laporan keuangan pada periode yang bersangkutan.
Laporan keuangan yang disusun atas dasar akrual memberikan informasi kepada pemakai tidak hanya transaksi masa lalu yang melibatkan penerimaan dan pembayaran kas tetapi juga kewajiban pembayaran kas dimasa depan serta sumber daya yang merepsesentasikan kas yang akan diterima di masa depan
Namun dalam penghitungan pendapatan untuk tujuan bagi hasil usaha menggunakan dasar kas. Hal ini disebabkan bahwa prinsip pembagian hasil usaha berdasarkan bagi hasil, pendapatan atau hasil yang dimaksud adalah keuntungan bruto
2.    Laporan keuangan biasanya disusun atas dasar asumsi kelangsungan usaha entitas syariah yang akan melanjutkan usahanya dimasa depan. Oleh karena itu, entitas syariah diasumsikan tidak bermaksud atau berkeinginan melikuidasi atau mengurangi secara material skala usahanya.

I.    Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan
Karakteris kualitatif merupakan cirri khas yang membuat informasi dalam laporan keuangan berguna bagi pemakai terdapat. Empat Karakteris kualitatif pokok yaitu :
1.    Dapat dipahami
Kualitas penting informasiyang ditampung dalam laporan keuangan adalah kemudahannya untuk segera dapat dipahami oleh pemakai.
2.    Relevan
Agar bermanfaat, informasi harus relevan untuk ,memenuhi kebutuhan  pemakai dalam proses pengambilan keputusan. Informasi memiliki kualitas relevan kalau dapat memengaruhi keputusan ekonomi pemakai dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini, dan masa depan, serta menegaskan atau mengoreksi hasil evaluasi di masa lalu.
3.    Keandalan
Andal diartikan sebagai bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material, dan dapat diandalkan pemakainya sebagai penyajian yang tulus dan jujur dari yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar diharapkan dapat disajiakan.
4.    Dapat dibandingkan
Pemakai harus membandingkan laporan keuangan entitas syariah antar periode untuk mengidentifikasi kecenderungan posisi dan kinerja keuangan.
Agar dapat dibandingkan, informasi tentang kebijakan kuntansi yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan dan perubahn kebijakan serta pengaruh perubahantersebut juga harus diungkapkan termasuk ketaatan atas standar akuntansi yang berlaku.

J.    Kendala Informasi yang Relevan dan Andal
Kendala informasi yang relevan dan andal terdapat dalam hal sebagai berikut
1.    Tepat Waktu
Jika terdapat penundaan yang tidak semestinya dalam pelaporan, maka informasi yang disajikan akan kehilangan relevansinya. Manajemen mungkin perlu menyeimbangkan manfaat relative antara pelaporan tepat waktu dan ketentuan informasi andal.
2.    Keseimbanga antar biaya dan manfaat
Keseimbangan antara biaya dan manfaat lebih merupakan suatu kendala yang dapat terjadi dari suatu karakteristik kualitatif. Manfaat yang dihasilkan informasi harusnya melebihi biaya perusahaan. Namun demikian, secara substansi, evaluasi biaya dan manfaat merupakan suatu proses pertimbangan.
K.    Unsur – unsur Laporan Keuangan
Sesuai karakteristik, laporan keuangan entitas syariah , antara lain meliputi :
1.    Komponen laporan keuangan yang mencerminkan kegiatan komersial yang terdiri atas laporan posisi keuangan, laporan laba rugi, laporan arus kas, serta laporan perubahan ekuitas.
Posisi Keuangan
Unsure yang berkaitan langsung dengan pengukuran posisi keuangan adalah
a.    Asset, adalah sumber daya yang dikuasai  oleh entitas syariah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan diperoleh entitas syariah.
b.    Kewajiban, utang entitas syariah masa kini yang timbul dari peristiwa masa lalu.
c.    Dana syirkah temporer adalah dana yang diterima sebagai investasi jangka  waktu tertentu dari individu dan pihak lainnya di mana entitas syariah mempunyai hak hak untuk mengelolahdan menginvestasikan dana tersebut dengan pembagian hasil investasi berdasarkan kesepakatan.
d.    Ekuitas adalah hak residual atas asset entitas syariah setelah dikurangi kewajiban dan dana syirkah temporer.
Kinerja
Unsure yang langsung berkaitan dengan  pengukuran penghasilan bersih adalah penghasilan dan beban. Unsure penghasilan dan beban didefinisikan berikut ini.
a.    Penghasilan (income) adalah kenaikan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan asset atau penurunan.
b.    Beban expenses adalah penurunan manfaat ekonomo selama suatu periode akuntansi dalam bentuk arus kas keluar atau berkurangnya asset atau terjadinya kewajiban yang melibatkan penurunan ekuitas yang tidak menyangkut pembagian kepada penanaman modal, termasuk di dalamnya beban untuk pelaksanaan aktivitas entitas syariah maupun kerugian yang timbul.
Hak pihak ketiga atas bagi hasil
Hak pihak ketiga atas bagi hassil dana syirkah temporer adalah bagian bagi hasil pemilik dana  atas keuntungan dan kerugian hasil investasi bersama entitas syariah dalam suatu periode laporan keuangan.
2.    Komponen laporan keuangan yang mencerminkan kegiatan social, meliputi laporan sumber dan penggunaan dana zakat serta laporan  sumber dan penggunaan dana kebajikan.
3.    Komponen laporan keuangan lainnya yang mencerminkan kegiatn dan tanggung jawab khusus entitas syariah tersebut.

L.    Pengukuran Unsur Laporan Keuangan
Sejumlah dasar pengukuran yang berbeda digunakan dalam derajat dan kombinasi yang berbeda dalam laporan keuangan. Berbagai dasar pengukuran tersebut adalah sebagai berikut :
1.    Biaya historis (historical cost)
Asset dicatat sebesar pengeluaran kas atau setara kas yang dibayar sebesar nilai wajar dari imbalan yang diberikan untuk memperoleh asset tersebut pada saat perolehan.
Kewajiban  dicatat sebesar jumlah yang diterima sebagai penukar dari kewajiban atau dalam keadaan tertentu, dalam jumlah kas yang diharapkan akan dibayarkan untuk memenuhi kewajiban dalam pelaksanaan usaha normal.
2.    Biaya kini (current cost)
Asset dinilai dalam jumlah kas atau setara kas yang seharusnya dibayar bila asset yang sama atau setara diperoleh.
Kewajiban dinyatakan dalam jumlah kas atau setar kas yang tidak didiskontokan yang mungkin akan diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban sekarang.
3.    Nilai realisasi/ penyelesaian (realizable/settlement value)
Asset dinilai dalam jumlah kas atau setara kas yang dapat diperoleh sekarang dengan menjual asset dalam pelepasan normal (orderly disposal).
Kewajiban dinyatakan sebesar nilai penyelesaian : yaitu jumlah kas yang tidak didiskontokan yang diharapkan akan dibyrkan untuk memenuhi kewajiban dalam pelaksanaan usaha normal.
M.    Laporan Keuangan Bank Syariah (PSAK 101)
Laporan keuangan bank syariah yang lengkap terdiri atas :
1.    Neraca;
2.    Laporan Laba Rugi;
3.    Laporan Arus Kas;
4.    Laporan Perubahan Ekuitas;
5.    Laporan Perubahan Dana Investasi Terkait;
6.    Lporan Rekonsiliasi Pendaptan Dan Bagi Hasil;
7.    Lporan Sumber Dan Penggunaan Dan Zakat;
8.    Lporan Sumber Dan Penggunaan Dan Kebajikan ; Dan
9.    Catatan Atas Lporn Keuangan.
II.    KONSEP DASAR AKUNTANSI MENURUT AAOIFI DAN PEMIKIR ISLAM
A.    Tujuan Akuntansi Keuangan dan Laporan keuangan
Kerangka dasar akuntansi disadari begitu sangat penting, dan untuk itu AAOIFI telah mengeluarkan pernyataan No.1 dan No. 2 . tujuan akuntansi keuanganuntuk lembaga keuangan  syariah menurut AAOIFI yaitu sebagai berikut :
1.    Dapat digunakan sebagai panduan bagi dewan standar untuk menghasilkan standar yang konsisten.
2.    Tujuan akan membantu bank dan lembaga keuangan syariah untuk memilih berbagai alternative metode akuntansi pada saat standar akuntansi belum mengatur
3.    Tujuan akan membantu untuk memandu manajemen dalam membuat pertimbangan /judgement pada saat akan menyusun laporan keuangan
4.    Tujuan jika diungkapkan dengan baik, akan meningkatkan kepercayaan pengguna serta meningkatkan pemahaman informasi akuntansi sehi ngga  akhirnya akan meningkatkan keperecayaan atas lembaga keuangan syariah.
5.    Penetapan tujuanyang mendulkung penyusiunan standar akuntansi yang konsisten.
B.    Pemakai dan Kebutuhan Infoermasi
Pemakai laporan keuangan menurut AAOIFI antara kain sebagai erikut :
1.    Pemegang saham
2.    Pemegang investasi
3.    Pemilik dana
4.    Pemilik dana tabungan
5.    Pihak yang melakukan transaksi bisnis
6.    Pengelolah zakat
7.    Pihak yang mengatur
C.    Paradigma, Asas, dan Karakteristik Transaksi Syariah
Paradigma, Asas, dan Karakteristik Transaksi Syariah tidak dapt dipisahkan dari ekonomi Islam, karena ekonomi Islam merupakan pelaksanaan syariah Islam dalam lkonteksmuamalah. Hal ini menunjukkan bahwa transaksi syariah seharusnya didasarkan atas prinsip dasar ekonomi Islam dalam rangka mencapai tujuan syariah (maqashidus Shariah). Prinsip dasar dalam ekonomi Islam menurutIbnu Al-A’rabi adalah sebagai berikut.
1.    Tidak boleh adanya bunga dan perdagangan tersebut adalah halal
2.    Tidak boleh dilakukan secara tidak adil
3.    Tidak boleh memasukkan hal-hal yang belum pasti.
4.    Harus mempertimbangkan Al- Maqasid dan Al Masalih.  Di mana Al MAqasid adalah tujuan harus selalu sesuai dengan tuntunan Islam. Sedangkan Al Masalih adalah kesejahteraan atau perbaikan di muka bumi.

D.    Bentuk Laporan Keuangan
Laporan Keuangan yang diminta oleh AAOIFI adalah :
1.    Laporan Perubahan Posisi Keuangan
2.    Laporan Laba Rugi
3.    Laporan Perubahan Ekuitas Atau Laporan Perubahan Saldo Laba
4.    Laporan Arus Kas
5.    Laporan Perubahan Investasi Yang Dibatasi Dan Ekuivalennya
6.    Laporan Sumber Danpenggunaan Dana Zakat Serta Dana Sumbangan
7.    Laporan Sumber Dan Penggunaandana Qard Hasan

E.    Syarat Kualitatif Laporan Keuangan menurut AAOIFI
1.    Relevan,  syarat ini berhubungan dengan proses pengambilan keputusan sebagai alasan utama disusunnya lporan keuangan.
2.    Dapat diandalkan. Syarat ini berhubungan dengan keandaln informasi yang dihasilkan
3.    Dapat dibandingkan.  Informasi keuangan dapat dibandingkan antara lembag keuangan syariah lainnya dan dintara dua periode akuntansi yang erbeda bagi lembaga keuangan yang sama.
4.    Konsisten.  Metode yang akn digunakan untuk perhitungan dan pengungkapan akuntansi yang sam untuk dua periode penyajian laporan keuangan.
5.    Dapat dimengerti. Informasi yang disajikan dapat dimengerti dengan mudah bagi rata-rata pengguna laporan keuangan.

F.    Perdebatan Para Pemikir Islam Mengenai Kerangka Akuntansi
Pembahasan Kerangka akuntansi syariah langsung dijelaskan pada konsep masing – masing sehingga tidak dikelompokkan kembali sebagai asumsi, karakteristik kualitatif, dan sebagainya.
a.    Konsep unit akuntansi
Konsep ini diartikan bahwa setiap perusahaan adalah suatu unit akuntansi yang terpisah dan harus dibedakan dengan pemiliknya atau dengan perusahaan lain (Belkout, 2000). Terdapat beberapa teori tentang kepemilikan di antaranya adalah sebagai berikut.
•    Proprietary Theory (Teori Pemilikan), dimana kepemilikan terhadap perusahaan tercermin pada akun ekuitas sehingga persamaannya Aset-Kewajiban=Ekuitas atau Aktiva- Kewajiban= Modal .
•    Entity Theory ( Teoti Kekayaan), dimana pemilik adalah hanya memiliki hak atas sebagian dari kepemilikan perusahaan, karena pemilik adalah hanya salah satu yang berhak atas perusahaan, sehingga persamaanya adalah Aset=Kewajiban+Ekuitas atau Aktiva=Ekuitas(modal) .
Para ulama fikih baik klasik maupun kontemporer serta para pemilik akuntansi islam, masih berbeda pandapat mengenai teori ini. Mereka yang mendukung diantarannya adalah Adnan dan Gaffikin(1997), Abdul Rahman (Napier, 2007), Attiah (1989). Konsep tersebut beralasan bahwa dalam islam ada juga konsep akuntansi yang harus terpisah daru unit akuntansi seperti Wakaf, Baitul Mall, Zakat, dan pemerintahan. Dasar yang digunakan oleh ulama fikih yang setuju dengan konsep ini adalah firma Allah dalam QS 4:29”….. Kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu”….. dan dalam hadis Nabi Muhammad SAW: orang mukmin itu (dalam urusan mereka) menurut syarat yang telah mereka sepakati, kecuali satu syarat, yaitu, menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.
Sedangkan mereka yang tidak setuju dengan konsep ini di antaranya: Gambling dan Karim (1991), Khan (Napier, 2007) beralasan bahwa perusahaan adalah suatu bentuk entitas hukum yang tidk dapat dipisahkan dengan pemiliknya terutama yang berkaitan dengan utang.
AAOIFI menerima konsep ini dengan dasar saling mempercayai dan masjid telah menjadi contoh adanya konsep entitas unit akuntansi yang terpisah dalam masyarakat islam.

b.    Kegiatan usaha yang berkelanjutan
Konsep berkelanjutan ini dijelaskan “mengasumsikan bahwa perusahaan akan terus berkelanjut di masa yang akan dating.
Pendapat ini didukung dengan mengatkan bahwa islam sangat mendukung orang yang bekerja dan menabung untuk mengantisipasi masa depn. Sebagaiman di sampaikan dalam QS. 57;7 dan Al Hadis; “Allah menyayangui orang-orang yang mencari nafkah yang baik dan menafkahkannya secara sederhana serta menabung sisanya untuk persiapan pada hari ia membutuhkan dan pada hari fakirnya (HR. Muslim).
Konsep ini banyak dikritisi oleh para pemikir akuntansi termasuk para pemikir islam, seperti Adnan dan Gafifkin 1997. Dengan alas an bhwa semua makhluk hidup adalah fana dan hanya Allah yang akn terus hidup selamanya.

c.    Satuan mata Uang.
konsep ini memiliki dua konsekuensi. Pertama, akuntan hanya akan memperhitungkan segalla sesuatu yang hanya dapat dinyatakan dengan mata uang serta mengabaikan informasi yang tidak dapat disajikan dalam satuan mata uang. Kedua, mengabaikan kenyataan bahwa daya beli mata uang tidak selamanya sama karena adanya inflasi. Perubahan harga akan menimbulkan dua masalah dalam akuntansi yaitu masalah penilaian dan masalah pengukuran.
Pemikir akuntasi dan ulama fikih berbeda pandapat tantang konsep ini, antara lain adalah Ahmed (Napier, 2007) yang menyatakan bahwa penggunaan uang sebagai alat perhitungan dalam lingkungan inflasi tinggi sangat dipertanyakan . penyebabnya adalah islam memerintahkan untuk berbuat adil seperti tercantum dalam QS 6:152, QS 7:85, serta QS 4:29. Inflasi menurunkan nilai sesungguhnya dari pinjaman dengan Qard Hasan karena pemberi pinjaman akan menerima nilai yang lebih kecil.
Untuk meminimalisir dampak inflasi, dapat dilakukan dengan penyesuaian atas indeks atau koreksi harga. Masalahnya adalah indeks tersebut tidak diterima oleh (empat) Imam Mazhab fikih. Sementara itu, penerapan nilai pengganti/replacement cost atau nilai wajar/fair value juga tidak sederhana, sehingga masih dianggap bukanlah solusi yang memadai, walaupun saat ini IFRS telah merekomendasikan penyajian aset tetap dengan menggunakan nilai wajar (current/fair value). Berdasarkan hal tersebut, Attiah (1989) mengusulkan penggunaan emas dan perak sebagai alat ukur karena kedua komoditas tersebut memiliki nilai yang konsisten dan penentuan nisab zakat juga menggunakan komoditas tersebut.
AAOFI menerima konsep ini berdasarkan hasil pertemuan The Islamic Academy di Kuwait pada bulan Desember 1988 yang menyatakan bahwa utang seharusnya dinilai pada jumlah uang tanpa melihat perubahan nilai uangnya. Pemikir akuntansi yang menerima konsep ini, bersikap pragmatis karena belumada metode yang lebih baik lagi mengatasi masalah ini.
1.    Entitas unit akuntansi
Konsep ini diartikan bahwa setiap perusahaan adalah suatu unit akuntansi yng ter[pisah dan harus dibedakan dengan pemiliknya atau dengan perusahaan lain. Terdapat bebrapa teori tentang kepemilikan diantarnya dlh :
a.    Propriety Theory,  dimana kepemilikan terhadap perusahaan tercermin pada akun ekuitas sehingga persamaannya Aset – kewajiban = Ekitas
b.    Entity theory,  pemilik hanya memiliki hak atas sebagian dari kepemilikan perusahaan, sehingga persamaannya, Aset = Kewajiban + Ekuitas.
Para ulama fikih , masih berbeda pendapt mengenai teori ini.  Mereka yang mendukung ialah Adnan dan Gafiffki (1997). Konsep tersebut beralasan bahwa dalm islam ada juga konsp akuntansi yang harus terpisah seperti : wakaf bitul mal, zakt dan pemerintahan. Dasar yang digunakan oleh para ulama yang setuju adalh firman Allah dalam QS. 4;29 …… kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu.
Sedangakan mereka yang tidak setuju dengan konsep ini diantarnya : Gambling dan Karim (1991) beralasan bahwa perusahaan adalah suatu bentuk entitas hokum yang tidak dapat dipisahkan dengan pemiliknya terutama terutama yang berkaitan dengan utang.

2.    Kegiatan usaha yang berkelanjutan
Konsep berkelanjutan ini dijelaskan “mengasumsikan bahwa perusahaan akan terus berkelanjut di masa yang akan dating.
Pendapat ini didukung dengan mengatkan bahwa islam sangat mendukung orang yang bekerja dan menabung untuk mengantisipasi masa depn. Sebagaiman di sampaikan dalam QS. 57;7 dan Al Hadis; “Allah menyayangui orang-orang yang mencari nafkah yang baik dan menafkahkannya secara sederhana serta menabung sisanya untuk persiapan pada hari ia membutuhkan dan pada hari fakirnya (HR. Muslim).
Konsep ini banyak dikritisi oleh para pemikir akuntansi termasuk para pemikir islam, seperti Adnan dan Gafifkin 1997. Dengan alas an bhwa semua makhluk hidup adalah fana dan hanya Allah yang akn terus hidup selamanya.

3.    Periodisasi
Menurut konsep ini, adanya  perubahn atas kekayaan perusahaan pada laporan keuangan harus dijelaskan secar periodic (belkoui,2000). Konsep ini berhubungan dengan konsep ini berhiubungan dengan usaha yang berkelanjutan.
4.    Satuan mata uang
5.    Koservatif
6.    Harga perolehan
7.    Penandingan antar pendapatan dan beban
8.    Dasar akrual
9.    Pengungkapan penuh
10.    Substansi mengungguli bentuk

G.    Beberapa Pemikiran ke Depan
Berdasarkan dinamika pemikiran konsep – konsep di atas , ada sebagian pemikir akuntansi Islam yang mengusulkan terobosan pemikiran yang agak berbeda.
a.    Neraca yang menggunakan Nilai saat ini (current value balance sheet), untuk mengatasi kelemahan dari historical cost yang kurang cocok dengan pola perhitungan zakat yang mengharuskan perhitungan kekayaan dengan nilai sekarang. Alasan lain, adalah dengan menggunakan nilai sekarang akan mempermudah pengguna laporan keuangan untuk mengambil keputusan karena nilai yang disajikan lebih relevan dibandingkan nilai historical cost.
IFRS (International Financial Reporting Standard) juga telah merekomendasikan nilai saat ini (current value) untuk aset yang disajikan dalam laporan keuangan, dan negara-negara didunia sedang dalam proses untuk mengadopsi IFRS sebagai standar pelaporan dinegara masing-masing.
Walaupun penggunaan current value lebih relevan, tetapi pihak yang kurang setuju atas penerapan tersebut menganggaap penggunaan current value lebih besar nuansa judgement khususnya untuk aset yang tidak memiliki pasar sekaligus akan ada tambahan biaya bagi perusahaan dalam rangka melakukan appraisal atas aset yang mereka miliki agar dapat disjikan dengan current value.

b.    Laporan Nilai Tambah (value added statement) sebagai pengganti laporan laba atau sebagai laporan tambbah atas neraca dan laporan laba rugi. Usulan ini didasarkan atas pertimbangan bahwa unsur terpenting didalam akuntansi syariah bukanlah kinerja operasional (laba bersih), tetapi kinerja dari sisi pandang para stakeholders dan nilai sosial yang dapat didistribusikan secara adil kepada sekelompok yang terlibat dengan dengan perusahaan dalam menghasilkan nilai tambah.

c.    Konsep nilai tambah pada awalnya dikembangkan dalam akuntansi sosial dan lingkungan (Mook, 2003), dan dianggap sebagai jawaban atas kelemahan akuntansi keuangan konvensional sehingga diusulkan sebagai laporan tambahan.

d.    Selanjutnya Baydoun dan Willet (1994,2000)mengusulkan bentuk laporan nilai tambah syariah setelah melakukan rekonstruksi melalui telaah filosofis-teoritis akuntansi syariah. Format Value Statedment yang diusulkan oleh Baydoun dan Willet (1994, 2000) adalah:

Value Added Statement
For the period ended …..
Source:
–  Revenues                                 xxx
–  Bough in items                                 xxx
–  Revaluation                                 xxx
Sub Total Sources:                                 xxx
Distributions:
–  Beneficiaries                                 xxx
–  Govemment                                 xxx
–  Employess                                 xxx
–  Owners
–  Charities                                 xxx
–  Reinvested Fund                                 xxx
–  Profit Retained                                 xxx
–  Revaluation                                 xxx
Sub total Distributions                                 xxx

Dalam perkembangan selanjutya, syariah value added statement dianggap lebih sesuai dengan aktivitas ekonomi islam yang adil dan beretika, serta sejalan dengan tujuan akuntabilitas dari akuntansi syariah, khususnya pendapatan dan beben yang harus ditanggung oleh pulik. Pemikir akuntansi islam juga melakukan perubahan atas format value added statement dengan cara megeluarkann zakat yang awalnya dianggap bagian dari charity dan menyajikan secara khusus setelah Gross Value Added. Hal ini sesuai dengan makna zakat yang bukan hanya sekedar sumbangan tetapi juga memiliki nilai pembersihan serta merupakan hal yang wajib bagi muslim. Seperti yang diusulkan oleh Mulawarman et al (2006) adalah sebagai berikut

Value Added Statement
For the period ended …..

Source:                                 xxx
–  Revenues xxx
–  Bought in items             xxx
–  Revaluation             xxx
Gross Value Added Zakat:
–  Tazkiah to 8 asnaf             xxx
Net Value Added             xxx
Distributions:
–  Govemment             xxx
–  Employess             xxx
–  Owners             xxx
–  Infaq Shadaqah             xxx
–  Reinvested Fund             xxx
–  Profit Retained             xxx
–  Revaluation             xxx
Sub Total Distributions             xxx

KESIMPULAN
PSAK  kerangka dasar penyusunan dan penajian laporan kuangan syariah yang dikeluarkan oleh DSAK IAI merupakan kerangka dasar yang lengkap, karenan mencakup tidak hanya tidak tentang akuntansi keuangan dan pelaporannya
Menganai postulates yang digunakan oleh akuntansi konvensional juga disepkati untuk diterima oleh PSAK maupun AAOIFI .
Pemikiran mengenai akuntansi syariah masi terus berkembang dan salah satu laporan keuangan yang diusulkan adalah neraca .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s